Sunday Feb 18, 2024

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) XI

Kegiatan perburungan di bulan pertama tahun 2024 dibuka dengan adanya event Pertemuan Pengamat Burung Indonesia XI. Event tahunan kali ini dilaksanakan di Desa Mendolo, Lebak Barang, Pekalongan, Jawa Tengah. Bancakannya para pengamat burung tahun 2024 ini mengusung tema “Kendurian lawan Kepunahan”. Acara tersebut digelar pada 19-21 Januari 2024.

Setelah absen sekian tahun dan pertama kalinya dulu ikut PPBI adalah PPBI 2015 di Rancaupas, Bandung, akhirnya PPBI kali ini saya bisa mantap untuk ikut. Horeee!!!

Saya berangkat pada hari Kamis menaiki kereta Tawang Jaya pada pukul 11 malam dari Stasiun Pasar Senen. Kereta tersebut tiba di Stasiun Pekalongan pada pukul 05 pagi. Saya yang ternyata satu kereta bareng Kaysan pun melaksanakan shalat subuh terlebih dulu di mushola stasiun. Dari situ bersama beberapa kawan lain yang baru berkenalan menaiki taxi online menuju KPH Pekalongan Timur yang lokasinya tidak jauh dari stasiun.

Hari pertama acara diisi dengan seminar yang dimulai dengan pembukaan dari tim panitia yaitu PPM (Paguyuban Petani Muda) Desa Mendolo dan juga pihak KPH Pekalongan Timur.

Bapak Dwi Nugroho Adhiasto dari Yayasan SCENTS pun mulai menjabarkan materinya pada seminar sesi pertama mengenai perdagangan dan perburuan satwa liar. Menurut Bapak Dwi, di masa pandemi jumlah perdagangan dan perburuan tersebut menjadi meningkat. Jika dahulu sebelum masa-masa internet hadir, pembeli dan penjual hanya bisa bertemu dan bertransaksi secara langsung, kini perdagangan satwa liar difasilitasi oleh media sosial dan e-commerce. Ada kecenderungan para penjual tersebut merasa bahwa berjualan satwa secara online dirasa lebih aman karena mereka tidak akan bisa dikenal alias cukup dengan menggunakan anonymus account. Sosial media juga kemudian malah disalahgunakan oleh pengguna yang tidak bertanggung jawab untuk mempertontonkan kesadisan menyiksa hewan seperti yang beberapa kali dilakukan oleh baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang sebelumnya menangkap hewan dari alam liar maupun dari membelinya.

Pembicara kedua adalah Bapak Marison Guciano dari Yayasan Flight Indonesia yang menjabarkan mengenai perburuan burung dan perdagangannya di Pulau Sumatera. Menurut Bapak Marison, perburuan dan perdagangan burung menjadi persoalan yang cukup pelik karena melibatkan banyak pihak. Sejatinya harus banyak sekali effort yang dilakukan agar bisa menguraikan berbagai masalah yang muncul dalam perburuan satwa liar khususnya burung-burung di Indonesia agar tidak habis di alam dan menjadi punah.

Mengingat hari itu adalah hari Jumat maka jam ISHOMA dimajukan sejak pukul 10.30. Sambil menanti waktu shalat Jumat, peserta pun menikmati cemilan dan makan siang yang sudah disediakan panitia di tepi lapangan. Saat itu cuaca cukup cerah meski sesekali mendung dan saya berdoa semoga cuaca selama esok hari di Mendolo terbilang cerah sehingga semua bisa berjalan lancar.

Setelah shalat Jumat dan makan siang, seminar pun bersiap dilanjutkan kembali. Namun sebelumnya ada bapak suhu Swiss Winnasis yang mau bagi-bagi sembako buku dulu hingga ruangan menjadi riuh. Peserta yang belum punya buku pun langsung ramai-ramai mengajukan diri ke depan.

Pembicara ketiga adalah Bapak Bertie Ferns dari Cikananga Wildlife Center yang membahas mengenai Cikananga Conservation Breeding Centre (CCBC) yang ada di kantor mereka di Sukabumi. Tujuan utamanya adalah menangkarkan dan mengembangbiakan spesies endemik Indonesia yang statusnya terancam punah ataupun kritis. Beberapa spesies yang ada di CCBC adalah burung jalak putih (Acridotheres melanopterus), poksay kuda (Garrulax rufifrons rufifrons dan Garrulax rufifrons slamatensis), ekek geling jawa (Cissa thalassina), poksai sumatera (Garrulax bicolor), dan jalak suren (Gracupica jalla).

Pembicara keempat di hari yang mulai sore adalah Bapak Happy Ferdiansyah yang seorang dokter hewan dan menjabarkan mengenai perdagangan satwa liar dan juga pengalamannya bekerja terkait rehabilitasi burung di Kalimantan. Pak Happy bercerita mengenai bakteri/virus (mbuh ya aku lupa, maap) yang bisa menimpa seekor burung kemudian bisa langsung menular ke burung lain dengan sangat cepat hingga ratusan ekor burung yang mati dan tak bisa diselamatkan padahal sudah dilakukan juga beberapa upaya pencegahan seperti mengisolasi burung yang sakit. Pak Happy juga menguraikan data dari penelusuran Tim Walet Indonesia bahwa pada kurun waktu 2020-2021 perdagangan satwa liar secara online di Facebook meningkat di masa pandemi, yaitu ada 1901 akun penjual, 164 grup jual beli satwa, dan 5234 ekor satwa yang diperdagangkan dengan 97%-nya adalah burung.

Pembicara terakhir yaitu ada Bapak Andri Suhandri dari KTH Wanapaksi Desa Jatimulyo, Kulonprogo, yang bercerita mengenai perjalanan Desa Jatimulyo sejak awal masih banyak warga desa yang berburu burung hingga menjadi Desa Wisata Ramah Burung seperti sekarang.

Nah, pembicara terakhir masih ada Mudi atau Mutia Hanifah yang menguraikan mengenai beberapa point yang sudah dibicarakan pada PPBI X sebelumnya di Bali yaitu aplikasi citizen science untuk memantau perdagangan burung yang hal ini juga akan menjadi bahan diskusi di Desa Mendolo esok harinya.

Seminar hari itu pun ditutup dan peserta berkemas untuk menuju doplak maupun mobil masing-masing untuk menuju Desa Mendolo di Lebak Barang. Doplak adalah sebutan untuk mobil bak/pick up yang digunakan sebagai alat angkutan menuju Mendolo. Rupanya karena jalur yang cukup curam dan esktrim maka hanya doplak dan pengemudinya yang sudah ahli yang bisa membawa kami ke sana. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Doplak membelah kota Pekalongan dan melewati tugu durian yang menjadi simbol kota tersebut. Saya yang nggak suka durian tiba-tiba jadi was-was.

Semakin lama jalanan yang ramai pun berubah menjadi jalur yang cukup sepi dan semakin menyempit. Rombongan mobil dari Jogja yang berjumlah 5 mobil pun berganti transportasi. Pemandangan jalan di depan saya dan kawan-kawan di atas doplak yang terhalang terpal pada sore hari menjelang maghrib itu rupanya malah menguntungkan. Karena pada beberapa titik, saya bisa merasakan guncangan ekstrim yang begitu menengok ke belakang ke jalan yang sudah kami lalui, saya cuma bisa mengucap istighfar pelan-pelan. Lebih baik tidak usah ditengok jalannya sekalian, pikir saya. Langit pun menjadi gelap dan akhirnya kami tiba di Desa Mendolo saat adzan maghrib sudah mengalun dari masjid.

Malam hari setelah sudah bersih-bersih dan ganti baju, peserta berkumpul di tempat yang sudah disediakan untuk menggelar sesi diskusi dan juga acara utama (menurut sebagian besar peserta) yaitu MAKAN DUREN! Yha mohon maaf tim panitia, tanpa mengurangi rasa hormat, saya makan pisang rebusnya saja ya.

Diskusi mengenai aplikasi pemantauan perdagangan burung mengerucut ke pemilihan nama dan akhirnya disepakati bernama AKAR (Amati Sangkar). Aplikasi tersebut bertujuan untuk mempermudah pendataan burung yang ada di dalam sangkar atau satwa peliharaan. Rencananya AKAR akan diluncurkan pada tahun 2024 ini.

Seluruh peserta (kecuali saya, Kaysan, Ao, Bilal, Mas Rahman, dan beberapa kawan lain yang ternyata banyak juga ya) menikmati makan durian tanpa henti-henti entah sampai berapa buah yang sudah dihabiskan malam itu.

Pohon durian yang menjadi komoditas utama desa ini memang sangat mudah ditemui di area hutan-hutan di Mendolo selain dengan mudahnya saya menemukan bagedor (Sphaeropteris glauca) dan paku-pakuan lain.

Sesi pengamatan burung esok harinya dilakukan di dua tempat yaitu di Mendolo dan juga di Dusun Sawahan yang juga dilalui dengan naik doplak. Kali ini dengan kondisi langit yang terang tidak seperti kemarin saat senja, saya berdiri di atas doplak dan bisa leluasa melihat jalan sambil merasakan langsung sensasi dua hal sekaligus: mengamati jalan yang sempit dengan sisi kiri jurang dan mengingat dosa-dosa yang sudah dilakukan.

Tiba di tempat yang dituju, peserta langsung satu per satu menapaki jalur bersama pemandu. Tujuan utama kami adalah mengamati cekakak batu (Lacedo pulchella) dan juga luntur harimau (Harpactes oreskios). Sayangnya mungkin karena beramai-ramai, burung tersebut sempat tidak mau keluar sehingga cukup lama kami harus menunggu. Saat itu sempat teramati juga sekitar 20-an ekor julang emas (Rhyticeros undulatus) yang bertengger di pohon nun jauuuuuuuuh sekali di sana. Burung lain yang bisa diamati hari itu oleh peserta lain adalah elang jawa (Nizaetus bartelsi), sepah hutan (Pericrocotus flammeus), merbah corok-corok (Pycnonotus simplex), pentis pelangi (Prionochilus percussus), dan takur tenggeret (Megalaima australis).

Sambil menanti burung-burung saya sempatkan juga mengamati kupu-kupu dan jamur kecil yang tumbuh di kayu lapuk dan juga rerumputan. Di jam yang sudah ditentukan peserta pun kembali ke Mendolo menaiki doplak kembali dan sesi bebas untuk peserta entah mau ciblon di sungai atau pengamatan lanjutan di sekitaran Mendolo.

Malam harinya diskusi kembali membicarakan mengenai rencana Atlas Burung Indonesia jilid 2 disertai agenda “Big years” di tahun yang sama. Kegiatan ini bukan hanya sekedar “big month” selama satu bulan namun dalam kurun waktu 6 bulan diagendakan perlombaan mengamati dan mencatat burung liar. Hasil tersebutlah yang akan disusun menjadi Atlas Burung Indonesia versi terbaru. Malam itu juga ditentukan kota penyelenggara PPBI selanjutnya di tahun 2025 yaitu Bogor.

Usai penentuan kota Bogor tersebut, dilakukan pembagian doorprize untuk peserta yang bisa menjawab dengan benar (yang mana saya gagal jawab pertanyaan dan gagal dapat hadiah T_T). Daaan terakhir tentu saja kembali durian dikeluarkan.

Hari terakhir (aduh kok kayak betah ya) diisi dengan sesi bebas dan foto bersama. Beberapa peserta ada yang pulang lebih dulu karena mengejar jadwal kereta menuju rumah masing-masing.

Sejujurnya sampai hampir satu bulan berlalu dan baru bisa selesai menuliskan ini sekarang, saya masih nggak bisa move on dari Mendolo T_T. Rasanya mau mengulangi lagi hari-hari tersebut bersama seluruh tim Mendolo, warga desa yang sudah khusus memasak untuk kami peserta semua, pengamatan burung dan jalur-jalurnya yang bikin aman dan damai, sungainya yang bersih dan nggak bisa saya temui di Jakarta, juga keramahan-keramahan dari peserta lain yang datang dari berbagai kota.

Tidak ada yang menyatukan kami semua di sana saat itu kecuali semangat konservasi dari hati masing-masing. Karena laju kepunahan yang saat ini semakin nyata dan cepat di depan mata, rasanya juga jadi harus bergerak cepat mengiringinya dengan langkah yang tidak akan bisa dilakukan secara sendiri-sendiri.

Terima kasih tak terhingga untuk seluruh tim panitia yang sudah bersusah payah menyusun dan menyelenggarakan acara, kepada pembicara seminar atas ilmunya yang sudah dibagikan, kepada warga desa yang sudah memasak makanan yang sangat enak untuk kami, kepada seluruh sponsor acara dan juga kepada seluruh peserta dengan keramahannya selama tiga hari melakukan kegiatan bersama-sama. Semoga langkah yang sedang ditempuh saat ini membawa pada lingkungan yang lebih baik di masa depan.

Yulia

Pengamat tumbuhan, burung, dan kupu-kupu amatir, ibu dua anak, penulis, pustakawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top