Monday May 13, 2024

Cerita saat mudik

Jika saya tidak salah ingat, mudik berasal dari kata “udik” yang artinya kampung. Sehingga mudik bisa diartikan sebagai pulang kampung, baik ke rumah orangtua di kampung atau bahkan bertemu dengan istri dan anak-anak di kampungnya.

Mudik adalah sesuatu yang cukup akrab untuk kami sekeluarga. Dan buat kami, mudik adalah sesuatu yang rutin dilakukan sejak saya kelas 6 SD (sekitar tahun 1999), namun berhenti dilakukan sejak tahun 2009 saat saya telah lulus kuliah.

Mudik yang saya maksud adalah mudik ke rumah orangtua ayah di daerah Cilacap, Jawa Tengah. Sementara rumah orangtua ibu saya hanya berjarak sekitar 2 km dari rumah kami. Kalau ke rumah kakek dan nenek saya yang ini sih naik sepeda juga bisa hehe. Kakek dan nenek dari pihak ibu ini sudah puluhan tahun menetap di Jakarta.

Sebelum saya kelas 6 SD itu, mudik bagi keluarga-inti kami (ayah, ibu, kakak, dan saya) tidak dilakukan (dan juga tidak terpikir untuk dilakukan) ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. Faktornya adalah biaya yang cukup banyak dan tidak adanya kendaraan yang memungkinkan.

Meskipun sudah memiliki motor saat itu, ayah tentu saja tak mau membawa istri dan anaknya yang masih kecil-kecil sekaligus dalam satu motor beserta koper-koper yang terisi penuh. Terlalu beresiko. Katanya.

Berdasarkan cerita, awalnya kami mudik-lebaran ketika saya masih dalam kandungan. Berjarak 3 jam dari kampung ayah, ada bandara kecil yang beroperasi hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Dan saat itu kami mudik dengan pesawat kecil itu.

Setibanya di bandara, kakak saya yang saat itu berumur 5 tahun menangis histeris dan memaksa berangkat tidak dengan pesawat terbang namun dengan helikopter!! Dibujuk tak mau, diberi tahu malah tambah nangis.

Oh no! 

Ketika pulang tak ada jadwal penerbangan, maka transportasi yang digunakan adalah kereta api. Di tengah padatnya penumpang dalam kereta, ibu (dengan saya di dalam perutnya) hanya bisa melakukan posisi duduk di koper-kotak atau berdiri. Sudah itu saja. Tak bisa bergeser-geser lagi sampai bengkak-bengkak kakinya. (Duh, perjuangannya itu T_T).

Setelah itu, kami tak pernah melakukan mudik ketika lebaran. Kapok dengan padatnya kereta (apalagi dengan permintaan naik helikopter -_-). Jika ayah ingin merayakan idul Fitri bersama orangtuanya, biasanya ia bepergian sendiri saja tanpa kami. Sehingga kakak dan saya sama sekali tidak akrab dengan yang namanya “merayakan Hari Raya Idul Fitri di kampung”.

Saya ingat ketika kelas 2 SD, satu hari sebelum hari raya, saya menangis kencang karena ditinggal ayah mudik. Sambil menenteng koper-kotaknya, ia pergi saja tanpa memperdulikan saya yang terus menangis duduk di lantai sambil menarik-narik gorden.

Di lain waktu kami mudik bersama namun hanya dilakukan ketika libur sekolah. Ayah bisa memilih mengajak saya atau kakak saja (mungkin dilihat dari penilaian mana anak yang lebih nurut hehe). Setidaknya kami mendapat tempat duduk di kereta api pada waktu liburan.

Oh iya, koper-kotak yang saya sebut tadi sangat berarti untuk keluarga kami pada saat itu. Berwarna merah tua. Ukurannya tak terlalu besar, namun muat untuk pakaian tiga orang di antara kami. Pada penutupnya ada nomor-nomor yang berlaku sebagai kunci koper. Rentang waktu pemakaiannya cukup lama, sejak saya masih bayi hingga saya SMP. Sekarang, koper-kotak sudah berjamur sehingga tidak lagi kami gunakan.

Sepulang mudik liburan sekolah itu, kami biasanya turun di stasiun Jatinegara. Lalu berjalan kaki, melewati jembatan penyeberangan, sambil ayah memanggul koper-kotak, dan beberapa tas atau kardus tambahan berisi oleh-oleh. Sementara ibu menggandeng saya dan kakak. Kemudian kami menunggu angkutan untuk kembali ke rumah.

Rutinitas mudik-lebaran baru mulai kami lakukan pada tahun 1999. Saat itu ayah sudah bisa meminjam mobil dari kantornya untuk kami mudik. Pada waktu itu perasaan saya dan kakak tak terlalu senang karena kami berpikir berlebaran di kampung mungkin saja berarti mendapat jatah uang lebaran yang jauh dari perkiraan kami (kami waktu itu masih menjadi anak kecil yang mengharap duit lebaran :p).

Tak pernah bertemu dengan kemacetan parah, sehingga selepas Tasikmalaya saya terus mengulang-ulang pertanyaan; “Masih jauh nggak?” pada ibu atau ayah. Kakak saya sampai marah-marah karena bosan mendengar pertanyaan yang saya ajukan setiap lima kilometer.

Ketika hari raya tiba, sama seperti di Jakarta, kami berkeliling dan mengunjungi tetangga atau sanak famili yang tinggal di sekitar rumah Mbah di desa. Sang nenek dan kakek mengambil posisi duduk, lalu satu per satu secara bergantian kami maju untuk bersalaman.

Sedetik kemudian kening kakak dan saya berkerut, kami berpandangan bingung ketika melihat ayah dan kakek tetangga bersalaman lalu bergantian mengucapkan suatu kalimat (atau paragraf) yang panjang dengan bahasa Jawa.

Saya dan kakak menahan tawa karena kami sama sekali tak bisa menangkap ucapan itu, tak bisa membayangkan apa yang akan kami sampaikan nanti jika tiba giliran kami bersalaman.

Setelah itu gantian ibu saya yang bersalaman, saya menggeser posisi duduk, berharap bisa lebih menangkap apa yang disampaikan. Namun hasilnya nihil!! Saya tetap tidak mengerti o_O

Tiba giliran kakak saya. Namun ternyata dia mendorong saya maju lebih dulu. Ah, curang. Karena sudah terlanjur, saya pun maju mengambil posisi duduk di sebelah kakek tetangga, menyalaminya dengan dua tangan, lalu berkata sambil sedikit menahan tawa; “Mohon maaf lahir bathin.”

Lalu saya bangkit berdiri dan duduk di sebelah ibu. Sementara kakak saya cekikikan.

Ah, sedih sekali kakak beradik ini tak bisa bahasa daerah.

Sekitar 5 bulan kemudian kami mudik lagi. Namun kali ini karena kakek menghadap Ilahi. Tak tega dengan sang nenek yang harus merayakan idul fitri tanpa kakek, maka semenjak itu mudik lebaran menjadi rutinitas kami setiap tahun.

Seringkali kami berangkat tepat ketika hari raya, untuk menghindari macet yang lebih parah. Usai shalat ied, kami bersilaturahim dengan tetangga sekitar rumah, lalu berangkat ke rumah orangtua ibu, siangnya meluncur ke Jawa Tengah. Sampai tujuan kira-kira sudah pukul 03.00 dini hari, lalu paginya berkeliling ke rumah saudara, dan dua hari kemudian berangkat menuju ke Jakarta.

Begitu terus setiap tahun. Seiring bertambah tahun, kemacetan saat mudik semakin parah. Rute berangkat biasanya kami melewati jalur selatan, sementara pantura menjadi rute pulang kami. Begitu memasuki tol Cikampek, lalu lintas biasanya sudah luar biasa padat. Waktu tempuh normal adalah 8 jam perjalanan, namun bisa melar menjadi 15 jam. Kami bahkan pernah menempuh waktu tempuh kembali ke Jakarta selama 22 jam!!

Maceeet!!

Rasanya lelah dan pegal sekali duduk terus menerus selama lebih dari 10 jam, apalagi lebih sering saya duduk di belakang bertumpuk-tumpuk dengan koper dan kardus-kardus yang menyebabkan sisa ruang menjadi luar biasa sempit. Peraturannya seharusnya setiap kami berhenti untuk isi bensin atau istirahat saya dan kakak saling bertukar tempat, namun karena alasan “kamu kan badannya lebih kecil” maka jadilah peraturan itu hanya peraturan ilusi saja!

Sampai kampung biasanya kami sudah mabok. Dini hari yang sepi dengan udara dingin rasanya menyeret-nyeret kami supaya langsung tidur dan tak cuci kaki dulu sehabis menempuh jalur panjang. (Tapi harus tetap cuci kaki cuci tangan lho!)

Pagi harinya, meski mata masih mengantuk saya tak mau melewatkan suasana pagi di kampung. Supaya lebih berasa berada di pedesaan, terkadang ibu mengajak saya naik delman ke pasar. Ketika saya SMA kegiatan itu tak dilakukan lagi karena ibu berpikir saya sudah tak mau lagi naik delman, maka kami biasanya hanya nongkrong saja di pinggir sawah memperhatikan kereta lewat. Namun ketika mudik sewaktu sudah lulus kuliah, saya lah yang mengajak ibu naik delman, tidak hanya sampai pasar namun menambah rute menuju kaki bukit.

naik delman

Hal lain yang tak bisa dilewatkan adalah laut dan sawah. Setiap kami mudik, sawah di depan rumah nenek sudah melewati masa panen sehingga kering kerontang. Maka dalam perjalanan, di manapun melihat sawah hijau-hijau, kakak dan saya langsung menyuruh pak supir memberhentikan mobil. Lalu kami turun dan kejar-kejaran dulu di sawah.

Satu hari saja peluang untuk bepergian pun tak kami lewatkan, asalkan kami sudah mengikuti jadwal ayah berkunjung ke semua rumah sanak familinya, kami diperbolehkan jalan-jalan ke laut. Di tengah acara pernikahan pun kami pernah melarikan diri ke Pangandaran. Di lain waktu pada sisa hari mudik, kami nyeberang ke Nusakambangan.

Jika sudah menghabiskan waktu sekitar dua hari di kampung ayah. Kami packing kembali, bersiap menuju kampung orangtua ibu yang berjarak 4 jam, menginap satu malam, lalu esoknya langsung pulang menuju Jakarta untuk kembali berteman dengan kemacetan.

Jika di tempat ayah bisa bertemu laut, maka kampung ibu identik dengan sungai. Saya pernah menghabiskan waktu seharian bermain di sungai yang berarus deras dan berbatu-batu itu dan tetap tak mau pulang. Tahun-tahun berikutnya arus deras itu tak ada. Dulu untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lain saya butuh waktu lama karena takut terpeleset di antara batuannya yang licin dan arusnya yang deras. Namun kemudian kami hanya tinggal berjalan melenggang saja di antara kekeringan itu untuk menyeberang, beberapa aliran air bahkan bisa kami lompati.

Di kampung ibu ini, setidaknya ada tujuh rumah yang wajib kami kunjungi. Semuanya merupakan rumah milik adik atau kakak kakek saya, sepupu kakek, sepupunya ibunya nenek, dan seterusnya.

Rutinitas dalam mudik adalah rutinitas menanyakan silsilah; “Itu siapanya uti, bu?” (uti adalah panggilan kesayangan ibunya ibu alias nenek saya yang berasal dari kata “mbah putri”). Atau pertanyaan; “Itu siapanya kakung bu?”

Begitu terus setiap kami berkunjung ke rumah tersebut setiap tahun. Silsilah keluarga adalah sesuatu yang memusingkan buat saya. Setiap ibu menjawab; “Mbah kakung orang ini sama mbah putri kakek kamu itu kakak beradik.” Atau “Dia adiknya sepupunya ponakannya uti.”, maka lima menit kemudian saya tak mengerti lagi dia siapanya siapa, ini ponakannya siapa dan seterusnya.

Saya dan pasukan sepupu pernah ingin membuat pohon keluarga, namun baru menyebutkan satu persatu saja kami langsung merasa 4 kertas dijadikan satu itu tetap tak kan muat menampung semua silsilah ibu kami.

Bagian mengharukan selalu muncul setiap kami mengunjungi rumah kakek nenek yang terhitung saudara uti ini. (nggak usah dijelasin silsilahnya yah, saya nggak hapal :p)

Kakek nenek ini umurnya sudah 90an tahun. Tinggal hanya berdua. Anak-anaknya ada yang di Jakarta, ada juga yang berjarak beberapa kilometer dari sini. Sang kakek berprofesi sebagai perajin bambu. Ia membuat keranjang dan serokan sendirian. Dan tak hanya membuat saja, ia pun masih berkeliling kampung untuk menjual dagangannya itu.

Sebagai informasi, kedua matanya sudah sangat rabun. Ia hanya mendengar suara kami saja namun tak jelas melihat sekitarnya. Jika berkeliling, kakek hanya mengandalkan intuisinya saja. Pernah suatu ketika ia berjalan terlalu jauh dan tak bisa pulang ke rumah. Seorang bapak dari desa jauh itu pun mengantar kakek pulang dan menasihatinya untuk tak berjualan lagi mengingat usianya yang sudah sangat sepuh. Namun kakek menolak. Ia tetap berkeliling meski jaraknya tak lagi sejauh dulu.

Peralatan kakek

Lain lagi cerita pada rumah yang menjadi kewajiban kunjungan nomor satu kami. Rumah kecil yang luar biasa teduh ini menjadi tempat sangat favorit bagi saya untuk duduk-duduk santai di terasnya, minum kelapa yang dipetik sendiri, atau berkejaran dengan ayam-ayam milik nenek buyut.

Setelah tahun 2009 itu, rasa lelah, mabok darat, tulang belakang pegal, pantat panas, kebelet pipis ketika macet, kedinginan AC, kecintaan akan laut, sawah, dan sungai tanpa disangka ternyata melebur menjadi satu kerinduan.

Kenangan akan perjalanan mudik satu persatu menimbulkan esensi tersendiri setiap bulan ramadhan. Kadang kami mengenang masa-masa mudik dengan bercerita kembali misalnya ketika mobil kami tiba-tiba diminta berhenti oleh satu mobil yang menyalip kami dan cukup membuat deg-degan manakala sang supir dari mobil tersebut turun. Khawatir rampok, ternyata mereka adalah satu keluarga baik hati yang ingin mengembalikan ban mobil cadangan kami yang jatuh menggelinding beberapa kilometer dari sini tadi. Atau ketika suasana hujan sementara ac mobil rusak sehingga kaca depan buram luar biasa dan kami pun harus mencuci kaca depan dengan sampo. Atau ketika bensin sekarat sementara kami sedang melewati jalur Puncak (saat itu belum ada jalur Tol Cipularang) dan tak menjumpai pom bensin satupun. Atau ketika dalam perjalanan saya dalam keadaan tak puasa dan asyik saja duduk dekat jendela sambil dengan hebohnya mengunyah tahu goreng. Ketika berhenti di pom bensin baru saya sadari kenapa sejak tadi banyak sekali yang memperhatikan saya dari jalan raya atau dari mobil lain: kaca mobil yang ayah pinjam ini bukan berwarna gelap. Jadi dari luar terlihat sekali saya sibuk ngunyah tahu dengan maruknya. -__-

Rutinitas mudik selama 13 tahun itu berhenti sejak tahun 2010. Ketika Mbah alias ibunya ayah berkunjung ke Jakarta lalu jatuh sakit dan tak kunjung sembuh hingga ramadhan tahun berikutnya. Sehari-harinya Mbah hanya berbaring, membuka mata dan diam. Tak berbicara satu kata pun, dan hanya bisa minum susu atau jus yang dimasukkan lewat selang.

Sejak tahun 2010 yang lalu itu hingga selanjutnya tak ada lagi mudik ke Jawa Tengah ketika lebaran. Kalimat ibu saat itu; yang berbunyi; “Kita nggak mudik lebaran lagi, kecuali ada mukjizat.” menyadarkan saya untuk menuliskan semua ini.

Semua kenangan bertumpuk dengan bayangan Mbah yang tertawa sangat senang setiap melihat kami datang ke rumahnya di kampung. “Biasane sepi! Ini jadi rame!” serunya girang yang kemudian disusul dengan tawanya yang berderai.

Setelah 2 tahun koma dan tak kunjung ada perubahan, Mbah akhirnya berpulang. Kami akhirnya mudik di tahun 2012. Bukan untuk berlebaran melainkan mengantarkan Mbah untuk terakhir kalinya.

Jauh di atas kerinduan akan laut, sawah, dan sungai di kampung, kami lebih rindu celotehmu…

Yulia

Pengamat tumbuhan, burung, dan kupu-kupu amatir, ibu dua anak, penulis, pustakawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top