Friday Jun 14, 2024

Pengaruh COVID-19 terhadap kehidupan sehari-hari

Covid-19 berdampak pada banyak hal. Mulai dari kantor, kampus, dan sekolah yang diliburkan, mall dan tempat wisata yang ditutup, tempat ibadah yang tak dibuka, hingga PHK massal di mana-mana.

Covid-19 pun mengubah cara hidup kita sehari-hari. Masker yang awalnya hanya dipakai setiap menaiki motor, kini harus dipakai hanya untuk pergi ke warung di depan rumah. 

Sejauh ini dampak working from home dan school at home tidak terasa asing untuk kami. Selama 2 tahun belakangan, Aba memang tidak ke kantor, melainkan pergi ke kampus dan sering berada di rumah jika tidak ada jadwal kuliah. Sementara anak kami memang sehari-harinya menjalani homeschooling. Jadi, kehidupan sehari-hari seputar dua hal tersebut memang menjadi kegiatan sehari-hari.

Perubahan terjadi dalam hal kami yang biasanya sering sekali bepergian menjadi berdiam diri di rumah. Tempat yang kami tuju biasanya adalah taman kota maupun kampus UI di Depok. Biasanya kami bepergian naik kereta. Dalam seminggu bisa 2-3 kali kami menaiki transportasi publik tersebut. Belum ditambah saat akhir pekan mengunjungi orangtua masing-masing secara bergantian. 

Sejak kasus virus Covid-19 masuk ke Indonesia di awal Maret maka sejak itulah kami menghentikan semua kegiatan bepergian keluar rumah. Termasuk juga pergi ke taman yang lokasinya tidak jauh dari rumah.

Bahkan beberapa hari saat case 1 dan 2 baru diumumkan, saya membatalkan hadir berjualan di bazaar awal Maret lalu. Padahal saya sudah mendaftar sejak bulan Desember tahun lalu. Minggu kedua awal Maret pun ada acara di mana saya niatnya akan membacakan buku kedua saya secara read a loud. Qadarullah semua harus dibatalkan. 

Sekarang, kami sibuk memberi tahu anak kami untuk cuci tangan bolak-balik. Tentunya mencuci tangan sudah dibiasakan sejak lama, namun sejak adanya Covid-19 kebiasaan cuci tangan menjadi diseringkan. Bahkan meski kami hanya berjemur keluar sebentar dan tak bertemu siapa-siapa. Sehingga anak kami kerap kali protes kenapa harus cuci tangan lagi dan lagi. Sabar ya, Nak. Ini ikhtiar kita. 

Selama masa pandemi sekarang ini pun menjadi momentum untuk semakin mengajarkan pada anak mengenai mencintai lingkungan dan alam sekitar. Sejauh ini anak kami sudah belajar mengenai pentingnya mengurangi sampah, tidak membuang sampah sembarangan, kenapa tidak boleh memakan ikan hiu, kenapa tidak boleh berburu hewan yang terancam punah, dan sebagainya. Pandemi ini pun menjadi pembelajaran baru untuknya bahwa alam benar-benar akan memberikan dampak buruknya bagi kita, manusia, jika tak mau menjaga lingkungan. 

Rantai Covid-19 sebagai penyakit yang berasal dari hewan begitu besar pengaruhnya pada tatanan kehidupan manusia di seluruh daratan bumi. Dan ketika manusia harus berdiam di dalam rumah, dampak besarnya juga sangat terlihat. Anak kami takjub mengetahui bahwa puncak Himalaya bahkan bisa terlihat dari kejauhan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 30 tahun karena minimnya polusi udara selama sebulan terakhir. 

Dengan pandemi ini pula kami sekaligus mengajarkan pada anak untuk semakin tawakal dan giat berdoa agar pandemi lekas berlalu dan semua yang sakit segera diberi kesembuhan. 

Aamiin allahumma aamiin. 

Yulia

Pengamat tumbuhan, burung, dan kupu-kupu amatir, ibu dua anak, penulis, pustakawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top